Kegiatan Penyusunan Rencana Aksi Tematik Penurunan Kematian Anak tahun 2026-2029.
Bulan Oktober – November 2026.
Pengantar
Di setiap kota dan kabupaten ada dokumen Rencana Strategis Dinas Kesehatan. Dokumen ini menyediakan arah bagi pengembangan program kesehatan dalam jangka menengah sesuai dengan RPJMD Kota dan RIBK. Semua anggaran yang direncanakan berasal dari pemerintah pusat (APBN) dan daerah (APBD), serta dana BLUD yang dikonsolidasikan. Renstra Dinas Kesehatan tidak membahas secara detil dan keterkaitan berbagai kegiatan sektor lain, lembaga swasta, dan masyarakat di usaha penurunan kematian balita. Dana-dana kegiatan di luar pemerintah tidak diperhitungkan secara detil.
Di sisi lain, adanya Visi Walikota, RIBK dengan indikator jumlah kematian balita dan juga program 1000 Hari Pertama Kehidupan membutuhkan rencana tematik untuk mengurangi kematian balita. Rencana tematik ini bersifat multi-years (4-5 tahun) sesuai dengan Renstra DinKes dan mengacu pada sasaran pencapaian indikator RIBK yang divisikan oleh Walikota. Rencana tematik ini disusun bersama oleh para stakeholder usaha penurunan kematian balita. Contoh stakeholders dari pemerintah pusat (seperti Kemenkes, UPT pusat di DIY seperti RSUP Dr. Sardjito), pemerintah daerah, BPJS, dan organisasi pelayanan kesehatan swasta serta masyarakat.
Dana yang dipergunakan berasal dari seluruh sumber. Tidak terbatas dari pemerintah. Dana terkait penurunan kematian balita perlu diidentifikasi, antara lain dari BPJS setempat, organisasi swasta, sampai ke filantropi kalau ada. Dokumen rencana tematik ini harus mengacu ke Renstra Dinas Kesehatan.
Sebagai catatan penting, semua pihak yang terkait dengan pengurangan kematian balita harus mempunyai visi yang sama agar dapat bekerja secara terpadu. Secara keseluruhan visi ini diinisiasi oleh Walikota yang merupakan pemimpin tertinggi yang bertanggung jawab kepada masyarakat kota Yogyakarta. Oleh karena itu perencanaan tematik yang melibatkan lintas sektor ini dipimpin oleh Walikota dengan di delegasikan ke Kepala Dinas Kesehatan.
Dengan pendekatan ini fungsi utama desentralisasi untuk meningkatkan kepemilikan program kesehatan di Kota Yogyakarta diharapkan akan berjalan. Pemerintah pusat melakukan peran sebagai pembuat kebijakan, pemberi sebagian anggaran, dan pengawasan. Tanggung jawab pencapaian kematian balita berada di kota Yogyakarta dengan dipimpin oleh Walikota.
Tujuan
Kegiatan ini bertujuan menghasilkan dokumen Rencana Tematik Penurunan Kematian Anak yang diharapkan diselenggarakan antara tahun 2026 – 2029. Dokumen yang dihasilkan akan berisi:
| 1 | Visi bersama usaha mengurangi kematian balita dengan mengacu pada Visi Walikota Yogyakarta dan RIBK serta prinsip 1000 Hari Pertama Kehidupan. |
| 2 | Strategi-strategi yang diperlukan untuk mencapai visi yang dicanangkan |
| 3 | Rencana program 5 tahunan dan sumber pendanaannya berdasarkan prinsip transformasi kesehatan dengan menekankan pada koordinasi dan sinkronisasi kegiatan para pelaku. |
| 4 | Strategi dan kegiatan monitoring dan evaluasi yang melibatkan seluruh pelaku yang terlibat, dengan didukung oleh pihak independen yang memonitor. |
Langkah-langkah
Pertemuan 1: Hari Kamis 15 Oktober 2026
Kegiatan dikelola oleh UGM sebagai fasilitator dengan mengundang berbagai pihak yang terkait dalam usaha menurunkan kematian balita.
Daftar undangan sesuai dengan prinsip governance adalah sebagai berikut:
Regulator:
- Kementerian Kesehatan. Ibu Dirjen/staf. Ibu Daisy
- Pemerintah DIY,
- Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Dinas Kesehatan sebagai Dinas yang menjadi prime mover.
Operator:
- RSUP Dr. Sardjito,
- RSD
- RS-RS Swasta,
- Puskesmas dan
- FKTP Swasta.
Organisasi di Masyarakat:
- IDAI,
- POGI
- IDI,
- PPNI, dll.
Pemberi Dana
- BPJS
Universitas:
- UGM dan
- universitas lain.
Rundown
| 1. | Menetapkan Visi pelayanan Kesehatan anak yang terukur dengan indicator visi yang dicanangkan Walikota Yogyakarta, RIBK dan 1000 HPK dengan seluruh pelaku kegiatan. Visi Pelayanan untuk Kesehatan anak: |
| 2. | Memahami peran masing-masih stakeholders, sumber pendanaan, dan para pemimpinnya dalam mewujudkan visi selama 5 tahun ke depan. |
Melakukan diskusi Round the Table mengenai peran dan fungsi serta ketersediaan anggaran untuk penurunan kematian Balita di akhir tahun 2026 dan 2027. Diskusi ini dilakukan dengan melihat proses pencegahan kematian balita yang terbagi menjadi 2: (1) kematian neonatal; dan (2) kematian balita di luar neonatal
Uraian dari Regulator:
- Kementerian Kesehatan. Ibu Dirjen/staf. Ibu Daisy
- Pemerintah DIY,
- Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Dinas Kesehatan sebagai Dinas yang menjadi prime mover.
Uraian dari Operator:
- RSUP Dr. Sardjito,
- RSD
- RS-RS Swasta,
- Puskesmas dan
- FKTP Swasta.
Uraian dari berbagai organisasi di Masyarakat:
- IDAI,
- IDI,
- PPNI, dll.
Uraian dari Pemberi dana:
- BPJS
Uraian dari Universitas:
- UGM dan
- universitas lain.
Tim UGM sebagai fasilitator.
Rekonstruksi Pelaku Kegiatan usaha Penurunan kematian balita dan Pemimpinnya
- Intervensi Ante Natal & Neonatal (sampai 28 hari pasca persalinan)
Pelaku
Sumber Dana
Pemimpin
Pelayanan Antenatal (ANC) Rutin: Pemeriksaan berkala untuk memantau kesehatan ibu, nutrisi, menangani kondisi seperti diabetes atau hipertensi, serta melakukan skrining infeksi.
- Puskesmas & Rumahsakit
- FKTP Swasta
- Praktek swasta
BPJS
PemKota
PribadiKepala Puskesmas
Vaksinasi Ibu: Imunisasi selama kehamilan yang menyalurkan antibodi pelindung kepada janin.
- Puskesmas dan Rumahsakit
- FKTP Swasta
- Praktek swasta
BPJS
PemKota
PribadiKepala Puskesmas
Pendampingan Persalinan oleh Tenaga Terampil: Memastikan kehadiran tenaga kesehatan terlatih dalam pelayanan persalinan normal
- Puskesmas
- FKTP Swasta
- Praktek swasta
BPJS
PemKota
PribadiKepala Puskesmas
Pelayanan Rujukan
Pendampingan Persalinan oleh Tenaga Terampil:
Memastikan kehadiran tenaga Kesehatan terlatih dalam:
- layanan kegawatdaruratan obstetri saat persalinan untuk menangani asfiksia lahir, trauma, atau persalinan prematur.
- Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh pelayanan primer
- RS
- Klinik Utama
- Praktek swasta
- BPJS
- PemKota
- Pribadi
- SpOG
- SpA
Perawatan Esensial Bayi Baru Lahir
Pengeringan segera, pengaturan suhu tubuh (perawatan termal), inisiasi menyusu dini, dan perawatan tali pusat yang higienis.
+ yang butuh perhatian khusus
Home Care:
Puskesmas
RS untuk kasus tertentu
BPJS
Pemerintah kota
Dana Pribadi
Dr. Umum Puskesmas
SpA
- Intervensi Kesehatan Bayi dan Anak (Usia 28 hari sampai dengan 59 Bulan)
Pelaku
Sumber Dana
Pemimpin
Imunisasi: Partisipasi penuh dalam jadwal vaksinasi nasional untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit penyebab kematian utama seperti pneumonia (PCV), diare (rotavirus), campak, dan difteri.
Puskesmas & RS
FKTP Swasta
Praktek Swasta
Pemerintah: Pusat dan Daerah
Masyarakat sendiri
Dokter Puskesmas
Dukungan Gizi: Mendorong pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, serta deteksi dini dan penanganan malnutrisi akut berat (SAM).
Puskesmas
FKTP Swasta
Praktek Swasta
Pemerintah: Pusat dan Daerah
Masyarakat sendiri
Ahli Gizi
Penanganan Penyakit Menular: Akses terhadap oralit (ORS) dan zinc untuk diare, obat antimalaria dan kelambu di wilayah endemis, pencegahan dengue, serta pemberian antibiotik tepat waktu untuk infeksi saluran pernapasan bawah.
Puskesmas
Rumahsakit
BPJS
Dana Masyarakat
Dr. SpA
Penanganan penyakit anak yang membutuhkan Tindakan khusus klinis, termasuk pembedahan.
Rumahsakit
BPJS
Dr. SpJ anak
Dr. Sp Bedah Anak
Dr. Sp Bedah Jantung Anak
Pertemuan 2: --
| 3 | Melakukan analisis kekuatan dan kelemahan dalam ekosistem serta peluang-peluang dan ancamannya. |
| 4 | Menetapkan isu-isu pengembangan dan strategi pengembangan |
| 5 | Mengkoordinasi dan melakukan sinkronisasi program tahunan yang dilakukan oleh para pelaku dan targetnya. |
| 6 | Menyusun pendanaan program selama 4-5 tahun dari berbagai sumber |
3. Kekuatan dan Kelemahan dalam proses serta Ancaman dan Peluang yang berpengaruh pada jumlah kematian Balita di Kota Yogyakarta.
Catatan:
Analisis dilakukan berdasarkan fakta jumlah kematian di Kota Yogyakarta dan analisisnya.
- Intervensi Ante dan Neonatal
Kekuatan-Kelemahan
Ancaman dan Peluang
Pemimpin
Pelayanan Antenatal (ANC) Rutin: Pemeriksaan berkala untuk memantau kesehatan ibu, nutrisi, menangani kondisi seperti diabetes atau hipertensi, serta melakukan skrining infeksi.
–
–
Kepala Puskesmas
Vaksinasi Ibu: Imunisasi selama kehamilan yang menyalurkan antibodi pelindung kepada janin.
–
–
Kepala Puskesmas
Pendampingan Persalinan oleh Tenaga Terampil: Memastikan kehadiran tenaga kesehatan terlatih dalam pelayanan persalinan normal
–
–
Kepala Puskesmas
Catatan:
Pelayanan Rujukan
Kekuatan-Kelemahan
Ancaman dan Peluang
Pemimpin
Pendampingan Persalinan oleh Tenaga Terampil:
Memastikan kehadiran tenaga Kesehatan terlatih dalam:
– layanan kegawatdaruratan obstetri saat persalinan untuk menangani asfiksia lahir, trauma, atau persalinan prematur.
– Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh pelayanan primer
SpOG dan SpA
Catatan:
Perawatan Esensial Bayi Baru Lahir
Kekuatan-Kelemahan
Ancaman dan Peluang
Pemimpin
Pengeringan segera, pengaturan suhu tubuh (perawatan termal), inisiasi menyusu dini, dan perawatan tali pusat yang higienis.
??
- Intervensi Kesehatan Bayi dan Anak (Usia 29 hari –59 Bulan)
Kekuatan-Kelemahan
Ancaman dan Peluang
Pemimpin
Imunisasi: Partisipasi penuh dalam jadwal vaksinasi nasional untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit penyebab kematian utama seperti pneumonia (PCV), diare (rotavirus), campak, dan difteri.
Dokter Puskesmas
Dukungan Gizi: Mendorong pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, serta deteksi dini dan penanganan malnutrisi akut berat (SAM).
Ahli Gizi
Penanganan Penyakit Menular: Akses terhadap oralit (ORS) dan zinc untuk diare, obat antimalaria dan kelambu di wilayah endemis, pencegahan dengue, serta pemberian antibiotik tepat waktu untuk infeksi saluran pernapasan bawah.
Dr. SpA
Penanganan penyakit anak yang membutuhkan Tindakan khusus klinis, termasuk pembedahan
Dr. SpJ anak
Dr. Sp Bedah Anak
Dr. Sp Bedah Jantung Anak
5.Mengkoordinasi dan melakukan sinkronisasi program tahunan yang dilakukan oleh para pelaku dan targetnya.
Pertemuan 3: --
| 7 | Menetapkan system monitoring dan evaluasi pencapaian program. |
Selanjutnya draft dokumen akan dibahas oleh Walikota Yogyakarta untuk disahkan.
Selanjutnya pada tahun 2027 – 2029 akan dilakukan Monitoring dan Evaluasi kegiatan berdasarkan perencanaan yang disusun.
Kegiatan monitoring akan diselenggarakan pada tahun 2027 – 2029. Setahun minimal akan dilakukan 4 kali monitoring dengan mengambil tempat di berbagai pelaku kegiatan secara bergiliran. Monitoring akan dilakukan pada awal bulan April, Juli, Oktober, dan akhir Desember setiap tahun. Apabila ada gejala-gejala kenaikan luar biasa, monitoring dapat dilakukan lebih sering.
Dana monitoring diharapkan berasal dari APBN/APBN Kota Yogyakarta dan tambahan dari pelaku. Universitas Gadjah Mada akan berposisi sebagai pihak independen yang memonitor pencapaian target indikator RIBK dan 1000 HPK, dengan dana pengabdian masyarakat.
Tahap 3. Evaluasi
Kegiatan evaluasi akan dilakukan pada tahun 2029. UGM akan berfungsi sebagai evaluator independen. Hasil ini akan menjadi salahsatu kegiatan pertanggung jawaban Walikota Yogyakarta di akhir masa jabatan.
Kegiatan Kepemimpinan Berbasis Kinerja
Situasi Kesehatan Anak
di Indonesia dan Kota Yogyakarta
Gambaran Situasi saat ini, silahkan Klik
Indikator Kematian Bayi di Kota Yogyakarta
Usaha Penurunan Kematian Balita di kota Yogyakarta mempunyai tantangan yang diukur dengan jumlah kematian. Silahkan Klik
Konsep Performance Based Leadership
dan Pemetaan Pemimpin
Kerangka konsep yang dipergunakan untuk memimpin kegiatan pengurangan kematian balita di kota Yogyakarta. Silahkan Klik
